Airlangga Ungkap Berbagai Kebijakan yang Menyelamatkan Indonesia

Airlangga Ungkap Berbagai Kebijakan yang Menyelamatkan Indonesia

JAKARTA, BreakingNEWS.vip – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan berbagai kebijakan yang menyelamatkan perekonomian Indonesia di tengah pandemi Covid-19 yang menyerang secara global. Menurut Airlangga dalam rilis tertulis, Selasa (28/12/2021), berbagai stimulus dan insentif terbukti bisa mendorong perekonomian.

Menurut Airlangga, di tahun 2021 banyak program insentif untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan anggaran Rp 162,4 triuliun. Untuk UMKM, kata Airlangga, realisasinya mencapai Rp 77 triliun, terdiri dari subsidi bunga UMKM dan penempatan dana cadangan untuk perbankan.

Selain itu ada juga program kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai Rp 280 triliun. “Program KUR ini akan dilanjutkan terkait dengan program pemulihan ekonomi. Untuk UMKM, tahun 2021 clusternya mencapai Rp 141 triliun. Kami juga sedang mengkaji berbagai sector lain yang bisa menjadi pengungkit perekonomian di tahun 2022,” ujarnya.

Airlangga juga mengemukakan, Juli 2021 sebenarnya sempat ditandai dengan kasus harian yang mencapai 5.400 dan kasus aktif di atas 510.000. Hal itu disebutnya sebagai unprecedented. Sebab, bed occupancy rate (BOR) rumah sakit nasional mencapai rata-rata 92 persen ditambah adanya keterbatasan kapasitas oksigen.

Sebaliknya, di awal 2021 Indonesia disebutnya sukses melakukan pemulihan ekonomi. Misalnya, kuartal kedua tahun 2021 pertumbuhan ekonomi mencapai 7,07 persen dan kasus aktif turun di bawah 100.000 pasca Lebaran. “Lalu saat varian delta masuk, pemerintah terpaksa menarik rem lagi sehingga di kuartal ketiga pertumbuhan turun jadi sekitar 3,5 persen,” ungkapnya.

Meskipun demikian, lanjut Airlangga, berkat adanya berbagai insentif dan stimulus ekonomi sekaligus program pengendalian Covid-19 yang terintegrasi, perekonomian Indonesia di tahun 2021 masih tumbuh positip. Hal itu juga tak lepas dari sektor manufaktur dan komoditas yang menjadi engine yang mampu menahan turunnya pertumbuhan ekonomi.

Airlangga juga mengungkapkan, di kuartal kedua konsumsi yang tumbuh 6 persen, tiba-tiba turun ke 1 persen di kuartal ketiga. “Namun di kuartal keempat indeks keyakinan konsumen naik ke 118, Purchasing Managers’ Index (PMI) masih 53,9. Hal itu terjadi karena engine-engine perekonomian dan ekspor masih baik. Selain itu, neraca perdagangan positip dengan cadangan devisa 148 miliar dollar AS,” jelasnya.

Selain itu, Airlangga mengungkapkan fakta lain, yaitu surplus perdagangan yang mencapai 34,32 miliar dollar sepanjang Januari-November 2021. Hal itu disebutnya sebagai rekor dalam beberapa tahun terakhir yang didorong oleh kenaikan berbagai komoditas, terutama kelapa sawit yang memberikan nilai tukar kepada kepada petani antara Rp 3.000 hingga Rp 3.200 ribu per tandan buah segar (TBS).

“Ini juga merupakan angka tertinggi dan ini membuat ekspor crude palm oil (CPO) kita mencapai 25 miliar dolar,” katanya.

Hal lain yang medorong perekonomian masih positip adalah ekspor baja dan nikel yang nilainya mencapai 14 miliar dollar. Hal itu disebutnya sebagai dampak kebijakan hilirisasi yang membuat Indonesia siap memenuhi kebutuhan pasar global. Airlangga yakin komoditas baja dan nikel juga akan menjadi andalan Indonesia di tahun 2022.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )