Emrus Sihombing soal Baliho Airlangga Hartarto: Wajar dan Perlu, Kinerjanya Meyakinkan

Emrus Sihombing soal Baliho Airlangga Hartarto: Wajar dan Perlu, Kinerjanya Meyakinkan

JAKARTA, BreakingNEWS.vip — Pakar komunikasi publik Emrus Sihombing menyatakan, wajar jika para politisi menunjukkan kepada masyarakat apa yang ingin disampaikannya melalui berbagai medium, termasuk baliho yang kini semakin marak. Juga keinginannya menjadi Presiden 2024. Lebih awal, lebih bagus, semakin cepat, semakin baik. Baliho juga bisa menjadi pengantar bagi masyarakat untuk menerepong rekam jejak dari para politisi atau pemimpin masa depan bangsa.

Politisi harus narsis, harus eksis menggunakan segala momentum politik. Jika menjadi ramai dan dianggap tidak etis, itu kemungkinan karena eksis dan narsisme melalui baliho tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan dan kerja poltik yang nyata. Apalagi, para politisi yang wajahnya muncul di baliho itu adalah tokoh penting di partainya masing-masing. Mereka semestinya dapat mengonsolidasikan partai mereka untuk menunjukkan kerja nyata dalam membantu masyarakat terdampak pandemik.

Dalam pandangan Emrus Sihombing, apa yang dilakukan kader Partai Golkar untuk menampilkan pemimpin tertingginya, Airlangga Hartarto, melalui pemasangan baliho di berbagai daerah sangat wajar. Bahkan, menurutnya, memang sangat diperlukan untuk sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat inilah figur pemimpin masa depan bangsa yang meman layak dipilih karena kinerjanya yang luar biasa.

“Mungkin saja sebenarnya Pak Airlangga Hartarto sendiri tidak terlalu suka dengan banyaknya baliho wajah beliau, karena beliau tampaknya bukan tipe pemimpin yang haus pencitraan, lebih suka bekerja, bekerja dan bekerja,” ujar Emrus Sihombing.

Emrus Sihombing bahkan berpendapat, mestinya para politisi jauh-jauh hari menampakkan ke ruang publik apa yang ingin disampaikannya, termasuk keinginannya menjadi presiden. Semakin cepat, semakin baik, agar publik tahu rekam jejaknya.

“Jadi saya tidak setuju kalau ada yang bilang, wah, si anu ambisi sekali ingin jadi presiden, kan masih lama, masih tiga tahun lagi. Salah besar. Pernyataan-pernyataan seperti itu tidak produktif. Bahkan saya berpendapat, itu sudah terlambat. Bukannya tiga tahun, tetapi dari sepuluh tahun sebelumnya mereka harus menyampaikan keinginan-keinginannya. Jadi Rakyat juga punya waktu untuk menilai, melihat rekam jejaknya,” papar pengajar Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, itu.

Emrus Sihombing menegaskan, pemasangan dan keberadaan baliho Airlangga Hartarto oleh kader-kader Partai Golkar bukan pencitraan, tetapi lebih karena ingin menunjukkan keberhasilan, kinerja keberhasilan. “Justru mestinya lebih awal,” tegasnya.

Terkait rekam jejak calon pemimpin, Emrus Sihombing mencontohkan tentang calon presiden yang kalah pada pilpres lalu yang mestinya presiden bayangan, menjadi opisisi dan bisa melalukan kontrol terhadap kekuasan. Akan tetapi, kandidat presiden tersebut justru masuk dalam pemerintahan.

Menyinggung Airlangga Hartarto, Emrus Sihombing menegaskan jika sebelum maraknya pemasangan baliho-baliho tersebut ia sudah mengusulkan kepada Menko Perekonomian untuk mencalonkan diri pada pilpres 2024.

“Saya sarankan, segera calonkan diri untuk menjadi calon Presiden 2024, sekitar setahun lalu. Kesan saya? Ia tidak terlalu memberi respon bangga dipuji, bangga didorong. Ia lebih suka bekerja, menunjukkan karya-karyanya,” tutur Emrus Sihombing.

Emrus Sihombing juga mengisyaratkan, ferforma dan penilaian masyarakat terhadap Airlangga Hartarto tidak akan terpengaruh oleh perilaku koruptif dari kadernya. Ia juga mementahkan variable koruptif anggota partai, sebab menurutnya tidak semua anggota partai melakukan korupsi.

“Pendapat saya sederhana saja, tetapi secara akademik dapat saya pertanggung jawabkan, tidak ada partai yang kadernya tidak melakukan korupsi. Hampir seluruh partai Maknanya, kader-partai melakukan korupsi, karena ada efek dari kader yang melakukan korupsi,” tegasnya.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )